Pages

Senin, 13 Februari 2012

Seonggok Tanah Merah


Seonggok tanah merah kembali terlintas dalam bayangan
Memberikanku sekejapan mata menembus batas ruang dan waktu
Anak kecil itu menangis, menatapnya dengan rasa kesal
Lalu ia masuk ke dalam kamar dan mengunci diri
Menumpahkan semua rasa benci dan marahnya
.....

Sesosok tubuh paruh baya berjalan keluar rumah
Menunggang kuda besi tua Piaggio Vespa Super 150 – B.5805.AG
Paras rembulan dan gemerlapnya bintang menemani kepergiannya
Setelah sehari ia mengurus rumah dan beberapa tubuh kecil
Terkadang ia penat dan lelah, bahkan tak jarang menumpahkan emosi sesaat
Dan kini...tiba waktunya keluar sarang dan mencari penghidupan bagi keluarganya
Adzan Subuh pun berkumandang....ia kembali ke peraduan dengan tenang
Dalam bahagia, berpikir bahwa sosok-sosok kecil telah menunggunya
.....
Hujan deras mengguyur bumi, 2 tubuh kecil menggigil bermain di halaman
Bibir membiru dan tangan gemetar, walau mereka menikmatinya
Sosok dewasa itu keluar dengan tenang, “Nang, mbok mentas...!”
“Bentar pak, masih ada hujannya kok...”, jawab tubuh mungil itu
Orang tua itu pun masuk kembali
“Nang, ayo mentas...hujan sudah reda.”, ia pun kembali keluar menyapa si kecil
Namun anak itu sambil menggigil menyahut, “Ntar dulu pak, ini masih ada pancuran kok...”
Kembali sosok yang sabar itu masuk ke rumah
Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa rotan kemoceng dan “Huaaa...aaaaa...”
Tangis itu masih terdengar ketika 2 anak kecil dibimbingnya masuk ke kamar mandi
Mandi air hangat, semangkok mie rebus dan segelas susu hangat menemani si bocah
Rupanya sejak tadi orang tua itu di dapur merebus air dan menyiapkan hidangan
Tak ayal, tangis pun berubah menjadi ceria dengan hangatnya suasana...
Reward seimbang dengan punishment...itu yang diterapkan sang Ayah
.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar