Seonggok tanah merah kembali
terlintas dalam bayangan
Memberikanku sekejapan mata menembus
batas ruang dan waktu
Anak kecil itu menangis, menatapnya
dengan rasa kesal
Lalu ia masuk ke dalam kamar dan
mengunci diri
Menumpahkan semua rasa benci dan
marahnya
.....
Menunggang kuda besi tua Piaggio
Vespa Super 150 – B.5805.AG
Paras rembulan dan gemerlapnya
bintang menemani kepergiannya
Setelah sehari ia mengurus rumah dan
beberapa tubuh kecil
Terkadang ia penat dan lelah, bahkan
tak jarang menumpahkan emosi sesaat
Dan kini...tiba waktunya keluar
sarang dan mencari penghidupan bagi keluarganya
Adzan Subuh pun berkumandang....ia
kembali ke peraduan dengan tenang
Dalam bahagia, berpikir bahwa
sosok-sosok kecil telah menunggunya
.....
Hujan deras mengguyur bumi, 2 tubuh
kecil menggigil bermain di halaman
Bibir membiru dan tangan gemetar,
walau mereka menikmatinya
Sosok dewasa itu keluar dengan
tenang, “Nang, mbok mentas...!”
“Bentar pak, masih ada hujannya
kok...”, jawab tubuh mungil itu
Orang tua itu pun masuk kembali
“Nang, ayo mentas...hujan sudah
reda.”, ia pun kembali keluar menyapa si kecil
Namun anak itu sambil menggigil
menyahut, “Ntar dulu pak, ini masih ada pancuran kok...”
Kembali sosok yang sabar itu masuk
ke rumah
Tak lama kemudian, ia kembali dengan
membawa rotan kemoceng dan “Huaaa...aaaaa...”
Tangis itu masih terdengar ketika 2
anak kecil dibimbingnya masuk ke kamar mandi
Mandi air hangat, semangkok mie
rebus dan segelas susu hangat menemani si bocah
Rupanya sejak tadi orang tua itu di
dapur merebus air dan menyiapkan hidangan
Tak ayal, tangis pun berubah menjadi
ceria dengan hangatnya suasana...
Reward seimbang dengan
punishment...itu yang diterapkan sang Ayah
.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar